Brain Pacemaker

Brain Pacemaker Dapat Mengobati Berbagai Gangguan Neurologis

Brain Pacemaker Adalah Perangkat Medis Yang Di Gunakan Untuk Merangsang Aktivitas Otak Melalui Impuls Listrik. Teknologi ini di kenal sebagai Deep Brain Stimulation (DBS) dan biasanya di gunakan untuk mengobati berbagai gangguan neurologis. Hal ini membuat anggota tubuhnya menjadi sangat berat dan ia bahkan hampir tidak bisa bergerak. Penyakit itu bahkan merengut kedua orang tuanya yang juga mengalami hal serupa loh teman-teman. Kemudian Emily bersedia melakukan hal yang ekstrem dengan menanam Elektroda di otaknya sebagai bagian dari terapi eksperimental tersebut. Para peneliti juga mengatakan kalau pengobatan stimulasi otak dalam, atau yang di sebut DBS.

Pada akhirnya akan bisa membantu jutaan orang yang menderita depresi yang tidak mau melakukan pengobatan lain. Obat ini telah di setujui untuk berbagai macam kondisi. Termasuk dengan penyakit epilepsi dan Parkinson, dan banyak tenaga kesehatan serta pasien berharap kalau obat ini akan segera tersedia secara lebih luas untuk mengatasi depresi tersebut. Pengobatan ini memberikan para pasien impuls listrik yang di targetkan seperti Brain Pacemaker. Masih banyak penelitian yang di lanjutkan dan penelitian tersebut benar-benar menjanjikan untuk para pasien.

Walaupun dua penelitian sebelumnya tidak menghasilkan manfaat penggunaan alat ini untuk mengatasi depresi. Di sisi lain, Badan Pengawas Obat dan Makanan telah menyetujui percepatan dalam meninjau banyaknya permintaan ke Abbot Laboratories untuk memakai perangkat DBS miliknya sendiri untuk mengobati depresi yang rentan terhadap pengobatan lainnya. Salah satu pengguna alat pacu jantung otak ini mengatakan kalau ia terpesona dengan konsep yang intens dari alat tersebut. Ia mengatakan seperti sedang melakukan operasi otak karena ada kabel yang tertanam di dalam otak tersebut dengan Brain Pacemaker.

Brain Pacemaker Juga Berfungsi Mengatur Perilaku Emosional

Hollenbeck menderita gejala depresi saat ia masih kecil. Ia tumbuh dalam lingkungan miskin dan terkadang menjadi tunawisma untuk tetap bertahan hidup. Kehancuran besar pertama yang di alaminya terjadi ketika ia di perguruan tinggi, setelah ayahnya bunuh diri pada tahun 2009 silam. Cobaan lainnya terjadi selama ia bertugas di Teach for America, membuatnya hampir tak mampu bergerak dan ia khawatir akan kehilangan pekerjaan di kelasnya tersebut. Akibat rasa khawatir yang berlebih itu membuat ia akhirnya harus di larikan ke rumah sakit.

Dia sudah mencoba berbagai cara untuk menyembuhkan depresi tersebut, namun sayangnya penyakitnya kambuh kembali seiring dengan berjalannya waktu. Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah, ia merupakan lulusan doktor dalam bidang psikologi, ia masih bisa menyelesaikan studi pascasarjananya bahkan ketika ibunya meninggal di tahun terakhir ia belajar. Ia masih kuat menghadapi depresinya, namun kadang kala ia juga berpikiran untuk bunuh diri. Dan dia berkata kalau ia sudah kehabisan pilihan pengobatan, termasuk dengan pengobatan terapi elekttokonvulsif. Kemudian ada seorang dokter yang memberitahunya mengenai pengobatan DBS alat pacu jantung otak tersebut.

Dan ia menjadi salah satu pasien berjumlah ratusan orang yang di obati dengan DBS tersebut akibat depresi. Hollenbeck kemudian melakukan operasi tersebut sambil di bius namun ia dalam keadaan sadar. Dokter yang menanganinya memasang sebuah elektroda logam tipis yang di letakkan pada korteks cingulate subcallosal di otaknya. Brain Pacemaker Juga Berfungsi Mengatur Perilaku Emosional yang terlibat dalam perasaan sedih yang di alami manusia. Kemudian elektroda di hubungkan dengan sebuah kabel internal pada perangkat yang di tempatkan di bawah kulit pada dadanya.

Pengobatan Ini Di Mulai Sejak Dua Dekade Lalu

Dalam otak manusia normal, aktivitas listrik bergema tanpa hambatan di setiap area, dalam bentuk putaran. Pada penderita depresi, putaran tersebut terjebak dalam sirkuit emosi otak manusia. Dan fungsi dari DBS untuk melepaskan sirkuitnya. Para pasien yang menggunakan pengobatan ini berkata kalau mereka bisa merasakan dampak yang besar terhadap pengobatan tersebut. Dan Hollenbeck melakukan pengobatan ini hanya untuk kedua orang tuanya. sebab kedua orangtuanya ingin ia agar tetap hidup. Pengobatan Ini Di Mulai Sejak Dua Dekade Lalu, saat ada ahli saraf yang bernama Dr. Helen Mayberg membuat sebuah penelitian yang menjanjikan.

Namun kemunduran akan penelitian tersebut pun terjadi. Penelitian besar yang telah di luncurkan selama belasan tahun tersebut tidak menunjukkann perubahan terhadap pasien yang mendapat pengobatan dan tidak mendapat pengobatan. Namun, seiring berjalannya waktu, pengobatan tersebut pun makin berkembang dan menunjukkan kesembuhan DBS yang cukup stabil dan jangka panjang jika di amati selama beberapa tahun terakhir. Secara keseluruhan, pada berbagai target otak, DBS untuk depresi sudah di kaitkan dengan tingkat respons rata-rata sebesar 60%, menurut sebuah penelitian pada tahun 2022.

Tim Mount Sinai adalah salah satu DBS yang paling terkemuka dalam meneliti depresi di AS. Di sana, seorang ahli neuroimaging menggunakan gambar otak untuk menemukan tempat yang tepat untuk memasang elektroda. “Kami memiliki sebuah templat, sebuah cetak biru tentang ke mana kami akan pergi,” kata Mayberg, pionir dalam penelitian DBS dan direktur pendiri The Nash Family Center for Advanced Circuit Therapeutics di Mount Sinai. Tim peneliti lain juga menyesuaikan pengobatannya, meskipun metodenya sedikit berbeda. Abbott meluncurkan uji klinis besar-besaran tahun ini, sebelum kemungkinan keputusan FDA.

DBS Bukanlah Obat Yang Dapat Menyembuhkan Segalanya

Stanley Caroff, profesor psikiatri emeritus Universitas Pennsylvania, mengatakan para ilmuwan masih belum mengetahui secara pasti jalur atau mekanisme otak yang menyebabkan depresi. Dan juga sulit untuk memilih pasien yang tepat untuk DBS, katanya. “Saya yakin dari sudut pandang psikiatris, ilmu pengetahuannya belum ada,” katanya tentang DBS untuk depresi. Hollenbeck mengakui bahwa DBS Bukanlah Obat Yang Dapat Menyembuhkan Segalanya; ia masih meminum obat untuk depresi dan membutuhkan perawatan berkelanjutan. Ia baru-baru ini mengunjungi Mayberg di kantornya dan mendiskusikan pemulihan. “Ini bukan tentang menjadi bahagia sepanjang waktu,” kata dokter padanya. “Ini tentang membuat kemajuan.” Itulah yang sedang di pelajari para peneliti tentang bagaimana melacak kemajuan.

Penelitian terbaru yang di lakukan oleh Mayberg dan peneliti lainnya di jurnal Nature menunjukkan bahwa memberikan “pembacaan” tentang apa yang di lakukan seseorang pada waktu tertentu adalah mungkin. Menganalisis aktivitas otak pasien DBS, peneliti menemukan pola unik yang mencerminkan proses pemulihan. Hal ini memberikan cara obyektif untuk mengamati kemajuan masyarakat dan membedakan antara depresi yang akan datang dan fluktuasi suasana hati yang khas. Para ilmuwan mengkonfirmasi temuan tersebut dengan menggunakan perangkat DBS yang lebih baru pada sekelompok pasien termasuk Hollenbeck. Ia dan peserta lain sebagian besar melakukan tugasnya di rumah.

Ia memberikan rekaman otak secara teratur dengan masuk ke tablet dan meletakkan remote di atas perangkat seperti alat pacu jantung di dadanya. Ia menjawab pertanyaan tentang bagaimana perasaannya. Dan ia merekam video, menganalisis hal-hal seperti ekspresi wajah dan ucapan. Seperti banyak pasien lainnya, ia bergerak lebih cepat karena kondisinya lebih baik. Pada suatu pagi baru-baru ini, Hollenback menyisir rambutnya ke samping untuk memperlihatkan bekas luka di dada karena Brain Pacemaker.