
Urat Malu Putus, Wayang Semar Hanya Jadi Pajangan
Urat Malu Putus, Wayang Semar Hanya Jadi Pajangan Yang Kehadirannya Di Anggap Remeh Dan Sering Terabaikan Begitu Saja. Wayang bukan sekadar seni pertunjukan. Di dalamnya tersimpan nilai, etika, dan filosofi hidup yang di wariskan lintas generasi. Namun ironisnya, di tengah gempuran budaya populer dan modernisasi tanpa filter. Wayang Semar yang simbol kebijaksanaan dan suara rakyat. Akan tetapu kini lebih sering menjadi pajangan ketimbang tuntunan. Ungkapan “Urat Malu Putus” terasa relevan. Ketika nilai luhur yang di wakili Semar kian di abaikan dalam kehidupan nyata. Fenomena ini bukan hanya soal menurunnya minat pada seni tradisi. Namun melainkan juga tentang hilangnya rasa malu terhadap pengabaian budaya sendiri. Semar tetap hadir di etalase, panggung seremoni, dan dekorasi, tetapi pesannya makin jarang di dengar. Jadi pantas di katakan dengan ungkapan Urat Malu Putus ini.
Semar: Simbol Kebijaksanaan Yang Kian Terpinggirkan
Fakta miris pertama adalah terpinggirkannya makna Semar dari kesadaran publik. Dalam pewayangan, Semar di kenal sebagai figur sederhana, jujur. Dan juga berani mengkritik kekuasaan demi kebenaran. Ia bukan bangsawan, namun menjadi penyeimbang moral para ksatria. Sayangnya, hari ini Semar lebih sering di pahami sebatas ikon visual. Banyak yang mengenal bentuknya. Akan tetapi tidak memahami pesan filosofisnya. Nilai kejujuran, kesederhanaan, dan keberpihakan pada rakyat kecil yang di wakilinya kian asing di tengah budaya instan dan simbolisme kosong.
Wayang Di Hormati Di Panggung, Di Abaikan Dalam Kehidupan
Fakta miris kedua adalah wayang sering di agungkan secara simbolik, namun di abaikan secara praktis. Pada acara resmi atau perayaan tertentu, wayang di tampilkan sebagai identitas budaya. Namun setelah panggung di tutup, nilai-nilainya tidak benar-benar di terapkan. Semar yang seharusnya menjadi cermin etika justru berhenti sebagai ornamen budaya. Ini mencerminkan paradoks: budaya di jaga secara formal. Serta yang di tinggalkan dalam perilaku sehari-hari. Ketika nilai luhur hanya berhenti di seremonial. Maka wayang kehilangan ruhnya.
Generasi Muda Kian Jauh Dari Nilai Wayang
Fakta miris ketiga terlihat dari menjauhnya generasi muda dari wayang dan pesan moralnya. Bukan semata karena mereka menolak tradisi. Akan tetapi karena kurangnya pendekatan yang relevan dan kontekstual. Wayang sering di anggap kuno, rumit, dan tidak “relate” dengan kehidupan modern. Akibatnya, Semar tidak lagi di kenal sebagai guru kehidupan. Namun melainkan sekadar karakter asing dari masa lalu. Ketika ruang edukasi budaya menyempit, warisan nilai pun ikut tergerus.
Tidak Tahu Malu: Budaya Jadi Pajangan Tanpa Rasa Bersalah
Fakta miris keempat adalah hilangnya rasa malu ketika budaya sendiri di reduksi menjadi pajangan. Banyak pihak merasa cukup dengan menampilkan simbol budaya. Tentunya tanpa merasa bertanggung jawab menjaga maknanya. Ungkapan “Urat Malu Putus” mencerminkan kondisi ini. Ketika nilai-nilai luhur di abaikan tanpa rasa bersalah. Semar tetap ada, tetapi suaranya di bungkam oleh kepentingan, pragmatisme, dan budaya pamer identitas tanpa substansi. Jika kondisi ini di biarkan, wayang termasuk Semar.
Terlebih yang akan benar-benar kehilangan fungsinya sebagai penuntun moral, dan hanya bertahan sebagai artefak estetika. Karena ungkapan ini bukan sekadar kritik budaya. Namun melainkan jadi sebuah peringatan bagi kita semua. Fakta-fakta miris yang terjadi hari ini menunjukkan bahwa kita berisiko kehilangan lebih dari sekadar seni pertunjukan. Dan kita kehilangan nilai, etika, dan kebijaksanaan lokal. Semar seharusnya kembali di hidupkan, bukan hanya di pajang. Nilai kejujuran, keberanian, dan keberpihakan pada kebenaran perlu di terjemahkan ulang agar relevan dengan zaman. Tanpa itu, wayang akan terus diam di sudut ruangan. Sementara masyarakat kehilangan cermin moralnya.
Note: artikel ini merupakan pendapat serta sudut pandang yang dilakukan penulis. Tidak berdasarkan pada sikap redaksi.