Bahaya Doomscrolling

Bahaya Doomscrolling, istilah yang mungkin terdengar lucu di telinga, namun dampaknya sangat nyata bagi kesehatan mental. Ini adalah kebiasaan terus-menerus menggulir berita buruk atau konten negatif di media sosial dan internet, sering kali tanpa sadar dan dalam durasi yang lama. Fenomena ini semakin marak sejak pandemi dan krisis global lainnya menjadi konsumsi harian. Ironisnya, semakin seseorang merasa cemas, semakin besar kecenderungannya untuk terus mencari tahu—dengan harapan mendapatkan rasa kontrol—padahal justru memperparah perasaan tidak berdaya.

Doomscrolling bukan hanya menguras waktu, tapi juga energi emosional. Paparan berulang terhadap berita tentang bencana, konflik, ketidakadilan, hingga krisis iklim dapat memicu stres kronis, kecemasan, bahkan depresi. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membentuk pola pikir pesimis dan membuat seseorang terjebak dalam lingkaran kelelahan emosional yang sulit diputus. Otak pun menjadi lebih sensitif terhadap informasi negatif, dan akhirnya dunia terasa lebih gelap dari kenyataannya.

Namun kabar baiknya, doomscrolling bisa diatasi—asal ada kesadaran dan kemauan untuk membatasi diri. Langkah pertama adalah mengenali kapan kita mulai kehilangan kendali. Jika membuka media sosial atau portal berita membuatmu lebih sering gelisah daripada tenang, itu bisa jadi sinyal untuk berhenti sejenak. Mengatur waktu layar dengan timer, mengurangi notifikasi, serta mengisi waktu luang dengan kegiatan alternatif seperti membaca buku fisik, jalan kaki, atau sekadar menyeduh teh dan menikmati keheningan, bisa menjadi cara sederhana tapi efektif untuk memutus siklus tersebut.

Di era digital ini, menjaga kewarasan bukan cuma soal menjauh dari layar, tapi lebih ke bagaimana kita berinteraksi dengan dunia maya secara sadar dan sehat. Doomscrolling bisa jadi musuh diam-diam, tapi dengan kesadaran kecil yang konsisten, kita tetap bisa menang melawan gelapnya algoritma.

Bahaya Doomscrolling tumbuh dari kebutuhan manusia akan kepastian dan kontrol—tapi ironisnya, sering kali justru menghilangkan keduanya. Maka, mengganti kebiasaan itu dengan aktivitas yang benar-benar memberimu rasa tenang dan kendali atas hidup adalah bentuk perlawanan paling elegan.

Ketika Cari Info Malah Bikin Cemas: Bahaya Doomscrolling

Ketika Cari Info Malah Bikin Cemas: Bahaya Doomscrolling.

Di era digital, informasi datang seperti gelombang tak henti—terus bergulir, terus menuntut perhatian. Awalnya, kita hanya ingin tahu kabar terbaru. Tapi tanpa sadar, jari terus menggulir layar, mata terpaku pada berita buruk yang muncul satu demi satu. Inilah yang disebut doomscrolling—kebiasaan mencari dan mengonsumsi konten negatif secara terus-menerus, hingga akhirnya menggerus ketenangan batin sendiri.

Fenomena ini bukan sekadar istilah baru dalam budaya internet, tapi punya dampak nyata pada kesehatan mental. Banyak orang merasa makin gelisah setelah membaca berita, bukan karena tak peduli, tapi karena otaknya tak punya waktu untuk mencerna dan menenangkan diri. Otak manusia tidak dirancang untuk menghadapi aliran ketakutan, kemarahan, dan kesedihan dalam dosis cepat dan bertubi-tubi. Namun media sosial dan platform digital, dengan algoritma yang menyukai emosi ekstrem, justru memberi makan kebiasaan itu.

Kecemasan yang ditimbulkan doomscrolling bukan berasal dari satu berita saja, tapi dari akumulasi informasi negatif yang dikonsumsi terus-menerus. Alih-alih merasa lebih tahu dan siap, banyak orang justru merasa lumpuh, bingung, bahkan kehilangan motivasi. Waktu tidur terganggu, konsentrasi menurun, dan suasana hati menjadi lebih mudah berubah. Bahkan dalam beberapa kasus, doomscrolling memperparah gejala gangguan kecemasan yang sudah ada.

Yang lebih rumit, doomscrolling sering kali terasa seperti kebutuhan. Ada rasa bersalah jika berhenti menggulir, seolah kita harus tetap “update” agar tidak ketinggalan atau dianggap tidak peduli. Namun justru di sinilah letak jebakannya—kita mencari rasa aman lewat informasi, tapi yang kita temukan adalah kegelisahan tanpa henti. Menyadari bahwa kita sedang doomscrolling adalah langkah awal yang penting. Karena saat informasi tak lagi memberdayakan, tapi malah menguras perasaan, mungkin sudah waktunya mengambil jeda.

Scroll Terus Sampai Lelah Mental: Kenali Pola Dan Bahayanya

Scroll Terus Sampai Lelah Mental: Kenali Pola Dan Bahayanya. Tanpa sadar, kita sering terjebak dalam lingkaran yang tampaknya sederhana: membuka media sosial, menggulir layar, membaca satu berita, lalu berlanjut ke berita lain, dan begitu terus hingga waktu berlalu tanpa terasa. Aktivitas ini, yang di kenal sebagai doomscrolling, bukan sekadar kebiasaan iseng saat bosan. Di balik gerakan jari yang ringan itu, tersembunyi potensi kerusakan serius bagi kesehatan mental.

Pola doomscrolling biasanya di mulai dari niat sederhana untuk “cari tahu” atau “update info.” Namun, algoritma media sosial dan portal berita di desain untuk terus menyodorkan konten yang memancing emosi, terutama yang bersifat negatif. Ketakutan, kemarahan, kekhawatiran semua itu menjadi bahan bakar yang mendorong kita untuk terus scroll. Kita tidak lagi hanya membaca informasi, tapi menyerap beban emosional yang datang bersamanya.

Akibatnya, otak pun bekerja lebih keras. Ia harus memproses emosi demi emosi tanpa sempat mengambil jeda. Ini yang memicu kelelahan mental, meskipun tubuh kita sedang rebahan. Kecemasan meningkat, pikiran menjadi lebih gelisah, dan kualitas tidur terganggu. Banyak orang merasa lelah secara emosional tanpa tahu kenapa, padahal jawabannya bisa jadi ada pada kebiasaan scrolling mereka yang tidak sehat.

Yang membuat doomscrolling berbahaya adalah ilusi produktivitasnya. Kita merasa sedang belajar, mencari tahu, bahkan peduli. Tapi ketika konsumsi informasi tidak lagi memberi solusi, justru memupuk ketakutan dan ketidakberdayaan, maka sudah saatnya kita bertanya: apa yang sebenarnya kita cari dari semua ini?

Mengakui bahwa doomscrolling melelahkan secara mental bukan berarti lemah atau tidak peduli. Justru itu tanda bahwa kita sadar akan batas dan kebutuhan diri. Di era informasi yang tak pernah tidur, kekuatan sejati terletak pada kemampuan untuk berhenti sejenak, memilih dengan sadar, dan memberi ruang bagi ketenangan. Karena tak semua hal harus kita ketahui sekarang juga—terkadang, menjaga kewarasan jauh lebih penting daripada jadi yang paling update.

Doomscrolling: Bentuk Modern Dari Overthinking?

Doomscrolling: Bentuk Modern Dari Overthinking?. Di tengah banjir informasi dan notifikasi tanpa henti, doomscrolling muncul sebagai fenomena baru yang sangat akrab—terutama bagi mereka yang hidup dalam lingkaran digital. Kita bangun tidur, langsung menggenggam ponsel, lalu terperangkap dalam lautan berita buruk, konflik sosial, krisis global, hingga komentar-komentar penuh emosi. Apa yang awalnya hanya ingin “cek sebentar” malah berubah jadi perjalanan mental yang melelahkan. Dan di sinilah batas antara doomscrolling dan overthinking mulai kabur.

Doomscrolling bisa di bilang sebagai bentuk modern dari overthinking. Bedanya, kalau overthinking terjadi karena pikiran kita sendiri yang memutar ulang berbagai skenario, doomscrolling di picu oleh rangsangan eksternal—dari layar, dari berita, dari orang lain. Tapi hasil akhirnya serupa: rasa cemas, stres, dan kepala yang terasa penuh, meski tidak melakukan apa-apa secara fisik.

Lebih parahnya lagi, doomscrolling memberi ruang bagi overthinking tumbuh subur. Satu artikel tentang krisis iklim bisa membuat kita merenung soal masa depan dunia. Satu thread tentang PHK bisa berubah jadi ketakutan akan kehilangan pekerjaan sendiri. Dan dalam proses itu, kita tak sadar bahwa kita bukan sedang mencari informasi, tapi memupuk kekhawatiran.

Doomscrolling juga membuat kita sulit berhenti berpikir. Bahkan setelah layar di matikan, isi kepalanya tetap bising. Kita jadi sulit tidur, mudah marah, dan merasa lelah padahal tak melakukan aktivitas fisik apa-apa. Ini bukan karena lemah, tapi karena otak terus di seret dalam arus informasi tanpa kesempatan untuk benar-benar istirahat.

Bahaya doomscrolling bisa di lihat sebagai bentuk overthinking era digital. Ia datang dengan wajah modern, tapi menyisakan dampak klasik: kelelahan batin. Mengenalinya sebagai bagian dari pola pikir yang tidak sehat adalah langkah awal. Karena di zaman yang memuja kecepatan dan keterhubungan, memilih untuk berhenti dan bernapas dalam diam adalah bentuk keberanian yang tak kalah penting dalam mengatasi Bahaya Doomscrolling.