EXECUTIVE: Evolusi Sang Pionir Fashion Kerja Indonesia

Dalam dunia ritel fashion Indonesia, nama The Executive bukanlah pemain baru

Dalam dunia ritel fashion Indonesia, nama The Executive bukanlah pemain baru. Selama lebih dari empat dekade, brand ini telah menjadi seragam tidak resmi bagi para profesional muda, eksekutif ambisius, dan lulusan baru yang ingin tampil tajam di hari pertama kerja. Namun, jika Anda masuk ke gerai mereka hari ini, Anda akan menemukan sesuatu yang berbeda. Nama “The” telah ditanggalkan, menyisakan identitas baru yang lebih lugas: Executive.

Perubahan ini bukan sekadar urusan estetika logo, melainkan sebuah pernyataan visi baru dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Akar Sejarah dan Visi Delamibrands

Lahir pada tahun 1979 di bawah naungan PT Delami Garment Industries (Delamibrands), The Executive diciptakan oleh Johanes Farial. Pada masa itu, pasar pakaian kerja pria di Indonesia masih didominasi oleh penjahit kustom atau brand impor yang harganya sangat tinggi.

The Executive hadir untuk mengisi celah tersebut: menyediakan pakaian formal (suiting) berkualitas tinggi dengan potongan ready-to-wear yang terjangkau. Fokus awal mereka sangat spesifik, yakni celana bahan pria dan kemeja formal. Ketelitian pada jahitan dan pemilihan bahan membuat brand ini dengan cepat merajai departemen store di seluruh Indonesia.

Mengapa EXECUTIVE Tetap Relevan?

Di tengah serbuan brand “Fast Fashion” global seperti Uniqlo, H&M, atau Zara, EXECUTIVE tetap memiliki basis pelanggan setia yang kuat. Ada beberapa alasan di balik ketangguhan ini:

  • Fitting yang Sesuai Postur Asia: Berbeda dengan brand Eropa yang seringkali memiliki potongan lengan atau celana yang terlalu panjang, EXECUTIVE memahami anatomi tubuh orang Indonesia. Potongan mereka cenderung pas (fit) namun tetap memberikan ruang gerak.

  • Kualitas Bahan: Sebagai bagian dari Delamibrands yang memiliki pabrik sendiri, kendali mutu pada bahan kain sangat terjaga. Mereka sering menggunakan teknologi bahan yang minim kusut (easy care), sebuah nilai tambah bagi pekerja sibuk.

  • Harga Kompetitif: EXECUTIVE memposisikan diri di segmen “Affordable Luxury”. Konsumen mendapatkan kualitas jahitan setara butik dengan harga yang masuk akal untuk kantong kelas menengah.

Transformasi Menjadi “Workwear & Beyond”

Transformasi Menjadi “Workwear & Beyond”. Dulu, aturan berpakaian di kantor sangat kaku: kemeja putih, dasi, dan celana kain gelap. Namun, dekade terakhir telah mengubah lanskap budaya kerja secara drastis. Munculnya industri kreatif, perusahaan rintisan (startup), hingga tren Work From Anywhere (WFA) membuat batasan antara pakaian formal dan kasual menjadi kabur.

Menyadari pergeseran ini, pada tahun 2022, The Executive melakukan rebranding besar-besaran menjadi EXECUTIVE. Perubahan ini membawa filosofi baru bahwa brand ini tidak lagi hanya untuk “para eksekutif” di gedung pencakar langit, melainkan untuk siapa saja yang memiliki “Executive Spirit”—semangat untuk berprestasi di bidang apa pun.

1. Di versifikasi Produk

Koleksi EXECUTIVE kini terbagi menjadi beberapa lini yang mengakomodasi berbagai kebutuhan:

  • Career: Koleksi formal klasik seperti blazer, celana kain, dan kemeja slim-fit.

  • Casual: Fokus pada kenyamanan dengan bahan rajut, polo shirt, dan celana chino.

  • Ladies: Koleksi wanita yang sangat kuat, mencakup gaun kerja modern, rok pensil, hingga blazer yang modis.

  • Accessories: Mulai dari tas, sabuk, hingga alas kaki untuk melengkapi tampilan dari ujung kepala hingga kaki.

2. Fokus pada “Versatility” (Serbaguna)

Kekuatan utama EXECUTIVE saat ini terletak pada fleksibilitas produknya. Sebuah blazer EXECUTIVE di rancang agar terlihat profesional saat rapat pagi hari, namun tetap terlihat santai dan gaya saat di padukan dengan kaos polos untuk acara makan malam atau nongkrong di kafe.

Strategi Kolaborasi dan Inovasi

Strategi Kolaborasi dan Inovasi. Untuk tetap segar di mata generasi Z dan Millennial, EXECUTIVE aktif melakukan kolaborasi yang tak terduga. Salah satu yang paling fenomenal adalah kolaborasi dengan Demon Slayer (Kimetsu no Yaiba), di mana mereka memadukan elemen anime populer ke dalam pakaian kerja harian.

Selain itu, mereka kerap menggandeng desainer lokal ternama dan figur publik yang merepresentasikan semangat modern. Langkah ini berhasil menghapus citra “brand bapak-bapak” dan menggantinya dengan citra brand yang dinamis dan mengikuti tren global.

Kolaborasi Digital dan Komunitas

EXECUTIVE sangat aktif di media sosial, terutama Instagram dan TikTok, dengan kampanye yang melibatkan KOL (Key Opinion Leaders) dari berbagai latar belakang—mulai dari arsitek, fotografer, hingga musisi. Mereka tidak lagi hanya bicara soal “cara memakai dasi”, tetapi soal “cara tampil percaya diri saat melakukan presentasi proyek kreatif”.

Selain itu, program loyalitas pelanggan mereka yang terintegrasi dengan ekosistem Delamibrands (seperti Wood, Jockey, dan Wrangler di Indonesia) memberikan nilai tambah bagi konsumen tetap melalui sistem poin dan diskon eksklusif.

Ekspansi Ritel dan Pengalaman Berbelanja Modern

Salah satu kunci keberhasilan EXECUTIVE adalah strategi penempatan gerai yang sangat strategis. Dari mal kelas menengah hingga pusat perbelanjaan premium, EXECUTIVE memastikan kehadiran mereka mudah dijangkau. Namun, transformasi brand ini juga mengubah konsep store design mereka.

Gerai-gerai terbaru EXECUTIVE kini mengusung konsep minimalis industrial dengan pencahayaan yang lebih cerah dan ruang ganti yang lebih luas. Tujuannya adalah menciptakan pengalaman berbelanja yang tidak mengintimidasi. Pelanggan diajak untuk melakukan mix and match secara mandiri, didukung oleh visual merchandising yang menampilkan gaya hidup, bukan sekadar memajang baju di manekin.

Kekuatan Lini Wanita (The Ladies Line)

Kekuatan Lini Wanita (The Ladies Line). Meskipun berawal dari pakaian pria, lini wanita EXECUTIVE kini menjadi salah satu kontributor pendapatan terbesar. Brand ini memahami bahwa wanita karier modern membutuhkan pakaian yang fungsional namun tetap feminin.

  • The Power Suit: Blazer dengan potongan oversized atau cropped yang mengikuti tren runway dunia.

  • Versatile Dresses: Gaun yang bisa di gunakan untuk rapat di siang hari dan langsung siap untuk acara makan malam formal hanya dengan mengganti aksesori.

  • Comfort First: Penggunaan bahan stretch dan teknik seamless yang mendukung mobilitas tinggi wanita urban.

Analisis Strategi Pemasaran: Menjangkau Gen Z

Transisi nama dari “The Executive” menjadi “EXECUTIVE” adalah langkah cerdas untuk merangkul Generasi Z yang kini mulai memasuki dunia kerja. Gen Z cenderung menghindari label yang terasa terlalu “tua” atau “birokratis”. Dengan menghilangkan kata “The”, brand ini terasa lebih seperti sebuah movement atau label gaya hidup.

Menghadapi Masa Depan: Keberlanjutan dan Digitalisasi

EXECUTIVE juga mulai merambah ke arah keberlanjutan (sustainability) dengan mulai memperkenalkan lini produk yang lebih ramah lingkungan. Di sisi lain, ekosistem digital mereka semakin kuat melalui situs belanja mandiri dan kehadiran di berbagai marketplace besar di Indonesia.

Mereka tidak lagi sekadar menjual baju; mereka menjual kepercayaan diri. Semboyan mereka seringkali mencerminkan bahwa setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, tidak peduli apa profesinya.

“EXECUTIVE bukan lagi tentang posisi di kartu nama, melainkan tentang bagaimana Anda membawa diri dan mengejar impian dengan gaya.”

Kesimpulan

Perjalanan dari The Executive menjadi EXECUTIVE adalah potret keberhasilan brand lokal dalam melakukan adaptasi. Dengan mempertahankan akar kualitas tailoring yang kuat namun tetap membuka diri pada tren kasual dan digital, EXECUTIVE membuktikan bahwa brand lokal mampu bersaing dan bahkan memimpin pasar di negerinya sendiri.

Apapun impian yang sedang Anda kejar dan seberapa pun dinamisnya perubahan dunia di masa depan, pastikan Anda selalu melangkah dengan penuh keyakinan dan gaya yang autentik bersama Executive