
Sering Menyabotase Diri sendiri, bukan karena kita tidak mampu, tapi karena terlalu sibuk membandingkan hidup kita dengan milik orang lain. Di era media sosial, di mana setiap pencapaian bisa di bagikan dalam sekejap dan setiap senyum terlihat seperti simbol keberhasilan, kita jadi mudah merasa kalah—meskipun kita tidak sedang bertanding dengan siapa pun.
Perbandingan itu datang diam-diam. Saat scroll Instagram di malam hari, melihat seseorang seumuran sudah punya rumah atau karier mapan. Atau ketika teman lama update foto liburan ke tempat yang belum pernah kita kunjungi. Tanpa sadar, kita mulai mempertanyakan nilai diri sendiri. “Kok aku belum sampai situ, ya?” “Apa aku kurang usaha?” Padahal, setiap orang sedang menjalani kehidupan yang sangat berbeda, dengan cerita dan tantangan yang tidak semuanya terlihat.
Membandingkan diri bisa membuat kita mengecilkan apa yang sudah kita capai. Kita lupa menghargai langkah-langkah kecil yang sebenarnya besar untuk kita. Kita lupa bahwa proses tidak selalu linear, dan tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Kadang kita bahkan menunda langkah berikutnya, bukan karena takut gagal, tapi karena merasa harus langsung sebesar atau sesukses orang lain.
Belajar sadar dari pola ini penting. Belajar kembali menilai diri dari kacamata yang lebih adil dan penuh empati. Karena hidup bukan tentang jadi yang paling cepat atau paling mengesankan di mata orang lain, tapi tentang menjadi versi terbaik dari diri kita, sesuai waktu dan jalur yang kita pilih sendiri.
Sering Menyabotase Diri lewat perbandingan bukan hanya melelahkan, tapi juga membatasi. Kita menutup potensi diri dengan keraguan yang tidak datang dari fakta, melainkan dari ilusi tentang bagaimana seharusnya hidup berjalan. Padahal, keberhasilan yang sejati lahir dari proses yang otentik—bukan dari perlombaan membandingkan pencapaian.
Sering Menyabotase Diri Sendiri, Kadang Datangnya Lewat Scroll Tanpa Sadar
Sering Menyabotase Diri Sendiri, Kadang Datangnya Lewat Scroll Tanpa Sadar. Self-sabotage itu nggak selalu datang dengan suara keras atau keputusan besar yang impulsif. Kadang, ia masuk pelan-pelan lewat kebiasaan kecil yang kelihatan sepele—seperti scroll media sosial di tengah malam, tanpa sadar membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Kita mungkin bilang cuma iseng atau butuh hiburan, padahal dalam proses itu, kita sedang merusak kepercayaan diri sendiri satu swipe demi satu swipe.
Misalnya, kamu lagi ngerasa baik-baik aja dengan progres hidupmu. Tapi habis lihat postingan teman yang baru beli rumah, nikah, punya bisnis, atau keliling dunia, tiba-tiba kamu jadi ragu. Perasaan puas itu berubah jadi iri yang sunyi. Kamu mulai bertanya-tanya, “Aku ngapain aja selama ini?” “Kok hidupku gini-gini aja?” Dan dari situ, kamu mulai mengerem langkahmu sendiri. Menunda, meragukan diri, bahkan berhenti mencoba—bukan karena kamu nggak bisa, tapi karena merasa tertinggal.
Padahal kamu nggak sedang berlomba. Kamu cuma kejebak di jebakan pikiran. Scroll yang harusnya jadi hiburan, malah berubah jadi pemicu krisis eksistensial mini tiap malam. Itulah bentuk self-sabotage yang halus tapi dalam. Dia datang tanpa suara, tapi efeknya bisa membungkam motivasi kamu buat berprogres.
Makanya, penting banget buat sadar dan jujur sama diri sendiri. Apa kamu benar-benar butuh tahu hidup orang lain sekarang? Atau kamu cuma lagi cari pelarian dari rasa nggak puas yang belum kamu terima? Kadang, yang kita butuhin bukan validasi dari layar, tapi ruang untuk menghargai perjalanan kita sendiri.
Karena pada akhirnya, kamu nggak harus sama dengan siapa pun. Nggak harus cepat. Nggak harus viral. Kamu cuma perlu jujur—sama apa yang kamu mau, dan apa yang kamu siap perjuangkan, tanpa nyabotase diri sendiri secara diam-diam.
Daripada Membandingkan, Lebih Baik Fokus Menumbuhkan
Daripada Membandingkan, Lebih Baik Fokus Menumbuhkan. Karena seberapa pun kamu lihat rumput tetangga lebih hijau, itu nggak akan nyiramin tanamanmu sendiri. Sementara kalau kamu fokus nyiram, rawat, dan sabar sama prosesmu sendiri, lambat laun tanah itu juga akan subur dan hijau dengan caranya sendiri.
Perbandingan itu memang menggoda. Apalagi di era digital, di mana semua orang seolah berlomba menunjukkan versi terbaik dari hidupnya. Kita lihat orang sukses di usia muda, punya pasangan ideal, badan ideal, kerjaan impian—dan tanpa sadar, kita mulai ukur hidup kita dengan penggaris orang lain. Padahal, setiap orang punya musimnya sendiri. Ada yang panen di umur 25, ada yang baru tanam benih di umur 35. Dan itu nggak apa-apa.
Menumbuhkan diri artinya sadar bahwa pertumbuhan itu bukan sesuatu yang bisa di bandingkan, tapi sesuatu yang perlu di rasakan dan di hargai. Itu tentang belajar jadi sedikit lebih sabar, sedikit lebih berani, sedikit lebih jujur pada diri sendiri setiap harinya. Tentang memperbaiki satu pola kecil, belajar satu hal baru, atau mungkin istirahat sejenak untuk kembali kuat.
Fokus menumbuhkan diri juga bikin kita lebih bahagia. Karena kita nggak lagi sibuk mengejar standar luar, tapi mulai menemukan makna dari dalam. Kita mulai paham bahwa jadi lebih baik itu bukan tentang menang dari orang lain, tapi menang melawan rasa ragu, malas, dan takut dalam diri kita sendiri.
Jadi, kalau lagi tergoda buat membandingkan, ingat: rumput tetangga bisa kelihatan lebih hijau karena kamu belum cukup fokus nyiram rumputmu sendiri. Alih-alih iri, tanya aja ke diri sendiri: “Apa yang bisa aku tumbuhkan hari ini?” Karena dari situlah kebahagiaan yang utuh biasanya mulai bertunas.
Kamu Pantas Dapat Dukungan, Termasuk Dari Dirimu Sendiri
Kamu Pantas Dapat Dukungan, Termasuk Dari Dirimu Sendiri. Kadang tanpa sadar, kita jadi orang pertama yang justru menjatuhkan diri sendiri. Kita meragukan kemampuan kita sebelum sempat mencoba, kita membatalkan mimpi bahkan sebelum mengambil langkah pertama. Kita terlalu sering keras, terlalu sering bilang “nggak cukup bagus,” “nggak akan bisa,” padahal belum ada bukti apa pun yang menunjukkan itu semua benar. Inilah bentuk self-sabotage yang paling diam-diam tapi merusak—saat kita lupa bahwa seharusnya, dukungan pertama datang dari dalam diri kita sendiri.
Self-sabotage itu bisa halus, menyelinap dalam bentuk prokrastinasi, perfeksionisme, hingga rasa takut yang di bungkus logika. Kita menunda karena merasa belum siap, padahal kesiapan sering datang setelah kita bergerak, bukan sebelum, kita menunggu waktu yang “tepat,” padahal yang paling sering kita butuhkan adalah keberanian untuk mulai meski belum sempurna. Kita ingin orang lain percaya pada kita, tapi lupa bertanya: “Apakah aku sudah percaya pada diriku sendiri?”
Berhenti menyabotase diri bukan berarti tiba-tiba penuh percaya diri atau langsung berhasil dalam semalam. Tapi itu di mulai dari hal kecil: memberi ruang pada diri sendiri untuk mencoba, gagal, belajar, dan tumbuh. Itu tentang mulai mengganti suara dalam kepala dari “aku nggak bisa” menjadi “aku mau coba dulu.” Itu tentang jadi teman bagi diri sendiri, bukan hanya penilai yang paling galak. Kamu berhak di dukung, di dengar, dan di beri ruang. Termasuk oleh dirimu sendiri. Kamu pantas dapat pengertian, pantas di beri waktu untuk lelah, dan pantas di rayakan atas kemajuan sekecil apa pun.
Jadi, mulai hari ini, mungkin kamu bisa pelan-pelan menggenggam tanganmu sendiri, bukan untuk menarik ke belakang, tapi untuk membawa maju. Sebab kamu nggak butuh jadi sempurna untuk layak di dukung. Kamu hanya perlu jadi kamu—yang terus mau tumbuh, meski perlahan dan jangan Sering Menyabotase Diri.