WHO: Penjaga Kesehatan Global di Era Modern

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) adalah badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertanggung jawab atas kesehatan masyarakat internasional

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) adalah badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertanggung jawab atas kesehatan masyarakat internasional. Berkantor pusat di Jenewa, Swiss, World Health Organization didirikan dengan satu mandat fundamental: menjamin tingkat kesehatan tertinggi yang dapat dicapai oleh setiap manusia tanpa memandang ras, agama, keyakinan politik, kondisi ekonomi, atau sosial.

Sejarah dan Pendirian

Akar WHO bermula dari konferensi diplomatik abad ke-19 yang berupaya mengendalikan wabah kolera dan demam kuning lintas negara. Namun, organisasi ini secara resmi lahir pada 7 April 1948, sebuah tanggal yang kini diperingati setiap tahun sebagai Hari Kesehatan Sedunia.

Konstitusi WHO ditandatangani oleh 61 negara, yang menandai momen pertama dalam sejarah di mana para pemimpin dunia sepakat bahwa kesehatan bukan sekadar masalah domestik, melainkan tanggung jawab kolektif global. Pada tahun-tahun awal, fokus utama WHO adalah pemberantasan penyakit menular seperti TBC, malaria, dan sifilis.

Struktur dan Tata Kelola

WHO beroperasi melalui sistem yang terdesentralisasi namun terintegrasi, yang memungkinkannya merespons kebutuhan lokal sekaligus menjaga standar global.

1. Majelis Kesehatan Dunia (WHA)

Ini adalah badan pengambil keputusan tertinggi yang bertemu setahun sekali di Jenewa. Delegasi dari 194 negara anggota berkumpul untuk menentukan kebijakan, menunjuk Direktur Jenderal, dan menyetujui anggaran program.

2. Dewan Eksekutif

Terdiri dari 34 anggota yang secara teknis memenuhi syarat di bidang kesehatan, dewan ini bertugas memberikan efek pada keputusan dan kebijakan Majelis.

3. Kantor Pusat dan Wilayah

Keunikan WHO terletak pada strukturnya yang terbagi menjadi enam wilayah (Regional Offices):

  • AFRO (Afrika)

  • AMRO/PAHO (Amerika)

  • EMRO (Mediterania Timur)

  • EURO (Eropa)

  • SEARO (Asia Tenggara – mencakup Indonesia)

  • WPRO (Pasifik Barat)

Peran dan Fungsi Utama

Peran dan Fungsi Utama. Eksistensi WHO bukan sekadar memberikan bantuan medis langsung, melainkan membangun infrastruktur kesehatan yang berkelanjutan. Berikut adalah fungsi intinya:

Penetapan Norma dan Standar

WHO menetapkan standar internasional untuk segala hal, mulai dari kualitas air minum, klasifikasi penyakit (ICD), hingga standar keamanan vaksin dan obat-obatan. Tanpa standar ini, sistem kesehatan global akan menjadi sangat kacau dan tidak terkoordinasi.

Pemantauan Tren Kesehatan

Melalui Observatorium Kesehatan Dunia, WHO mengumpulkan data secara masif untuk melacak penyebaran penyakit, angka harapan hidup, dan efektivitas sistem kesehatan nasional. Data ini menjadi kompas bagi pemerintah dalam merancang kebijakan publik.

Kesiapsiagaan dan Respons Darurat

Dalam situasi krisis seperti pandemi COVID-19, wabah Ebola, atau krisis kemanusiaan di wilayah konflik, WHO bertindak sebagai komandan lapangan. Mereka mengeluarkan Pernyataan Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC) untuk memobilisasi sumber daya global.

Penguatan Sistem Kesehatan

WHO bekerja sama dengan kementerian kesehatan untuk memperkuat layanan primer, memastikan ketersediaan tenaga medis yang kompeten, dan mendorong tercapainya Cakupan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage/UHC).

Pencapaian Bersejarah

Sepanjang sejarahnya, WHO telah mencatat beberapa kemenangan besar bagi kemanusiaan yang mengubah wajah peradaban:

  1. Eradikasi Cacar (Smallpox): Pada tahun 1980, WHO mengumumkan bahwa cacar telah berhasil di hapuskan dari muka bumi. Ini tetap menjadi salah satu pencapaian medis terbesar dalam sejarah manusia.

  2. Eliminasi Polio: Melalui Inisiatif Eradikasi Polio Global, kasus polio telah turun lebih dari 99% sejak tahun 1988, menyelamatkan jutaan anak dari kelumpuhan.

  3. Pengendalian Tembakau: Melalui Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (FCTC), WHO memelopori perjanjian internasional pertama berbasis kesehatan untuk mengurangi konsumsi rokok secara global.

Tantangan dan Kritik

Tantangan dan Kritik. Meskipun memiliki rekam jejak yang mengesankan, WHO tidak luput dari kritik dan tantangan besar, terutama di abad ke-21.

Kendala Anggaran

Anggaran WHO relatif kecil jika di bandingkan dengan tanggung jawabnya. Selain itu, sebagian besar pendanaan berasal dari kontribusi sukarela yang sering kali “ditujukan” (earmarked) untuk program tertentu, sehingga mengurangi fleksibilitas organisasi dalam menangani keadaan darurat yang tidak terduga.

Politisasi Kesehatan

Sebagai badan PBB, WHO sering terjebak dalam ketegangan geopolitik antarnegara besar. Kritik mengenai transparansi dan kecepatan respons pada awal pandemi COVID-19 menunjukkan betapa sulitnya posisi WHO ketika harus menyeimbangkan diplomasi antarnegara dengan tuntutan sains kesehatan.

Beban Penyakit Ganda

Saat ini, WHO harus berjuang di dua lini: melawan penyakit menular yang belum tuntas (seperti HIV dan Malaria) sembari menghadapi lonjakan penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, kanker, dan penyakit jantung yang kini menjadi penyebab kematian utama di dunia.

Transformasi Digital dan Sains dalam Kesehatan

Di era informasi, WHO telah bertransformasi dari sekadar organisasi kebijakan menjadi pusat inovasi sains. Salah satu langkah paling signifikan adalah pembentukan Divisi Sains pada tahun 2019. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa setiap pedoman yang di keluarkan WHO tetap berada di garis depan kemajuan ilmu pengetahuan, mulai dari pengeditan genom hingga kecerdasan buatan (AI).

Pemanfaatan Teknologi Informasi

WHO kini mengelola World Health Data Hub, sebuah platform data interaktif yang memungkinkan peneliti di seluruh dunia mengakses statistik kesehatan secara real-time. Dalam menangani disinformasi. WHO juga membentuk unit khusus untuk melawan “Infodemic”—yaitu penyebaran informasi palsu yang masif selama krisis kesehatan—dengan bekerja sama bersama platform media sosial besar guna memastikan informasi berbasis fakta tetap menjadi rujukan utama.

Peran WHO dalam Ketahanan Farmasi Global

Peran WHO dalam Ketahanan Farmasi Global. Salah satu tantangan terbesar yang di hadapi dunia adalah ketimpangan akses terhadap obat-obatan. WHO memainkan peran mediator melalui program Prakualifikasi Obat (Prequalification). Program ini sangat krusial bagi negara berkembang karena:

  • Jaminan Kualitas: Memastikan obat generik untuk penyakit seperti HIV, Malaria, dan TBC memiliki standar keamanan yang sama dengan obat bermerek yang mahal.

  • Akses Vaksin: Melalui mekanisme seperti COVAX (selama pandemi COVID-19), WHO berupaya agar distribusi vaksin tidak hanya di dominasi oleh negara kaya, meskipun dalam praktiknya masih menghadapi tantangan logistik dan politik yang besar.

  • Melawan Resistensi Antimikroba (AMR): WHO memimpin kampanye global untuk mengedukasi masyarakat dan tenaga medis mengenai bahaya penyalahgunaan antibiotik, yang di prediksi bisa menjadi “pandemi diam-diam” di masa depan

Masa Depan: Menuju Dunia yang Lebih Sehat

Ke depan, fokus WHO bergeser mengikuti perubahan zaman. Terdapat tiga pilar utama dalam rencana strategis jangka panjang mereka (Triple Billion targets):

  • 1 miliar lebih orang menikmati kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik.

  • 1 miliar lebih orang terlindungi lebih baik dari keadaan darurat kesehatan.

  • 1 miliar lebih orang mendapatkan cakupan kesehatan semesta.

Selain itu, WHO kini lebih serius menangani hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan. Krisis iklim di anggap sebagai ancaman kesehatan terbesar di masa depan. Yang berpotensi memicu pandemi baru dan memperburuk ketahanan pangan global.

Kesimpulan

World Health Organization adalah institusi yang sangat vital bagi kelangsungan hidup global. Di dunia yang semakin terkoneksi, penyakit di satu sudut bumi dapat mencapai sudut lainnya dalam hitungan jam. WHO bertindak sebagai perekat yang menyatukan sains, kebijakan, dan kemanusiaan untuk memastikan bahwa kesehatan bukan menjadi hak istimewa segelintir orang, melainkan hak asasi bagi setiap individu. Dan dalam memperjuangkan hak tersebut bagi setiap individu di seluruh dunia, peran yang paling sentral tetap berada di tangan World Health Organization.