
Jajanan Tradisional Indonesia sempat terpinggirkan oleh makanan modern yang lebih praktis dan visualnya lebih menggoda. Namun, siapa sangka, kekayaan kuliner yang dulu hanya dijajakan di pasar atau gerobak pinggir jalan kini justru menemukan panggung baru: dunia digital. Lewat konten viral di media sosial, jajanan-jajanan seperti klepon, cenil, lupis, kue putu, hingga serabi kembali naik daun, bukan hanya sebagai makanan, tapi juga sebagai simbol kebanggaan budaya.
Kebangkitan ini tidak terjadi secara kebetulan. Generasi muda, yang dulunya lebih familiar dengan cheese tea atau croffle, mulai penasaran dengan rasa-rasa khas yang diceritakan ulang melalui video pendek dan narasi nostalgia. Seorang food vlogger, misalnya, merekam perjalanan kulinernya ke pasar tradisional, lalu memotret dengan apik proses pembuatan kue rangi lengkap dengan suara mendesis di atas cetakan panas. Penonton pun tak hanya disuguhkan informasi, tapi juga pengalaman imersif yang memancing rasa ingin tahu dan kenangan masa kecil mereka.
Konten semacam ini menciptakan efek domino. Di satu sisi, para penjual jajanan tradisional mulai melihat peluang untuk memasarkan produknya secara lebih modern. Banyak yang kemudian bergabung ke platform online, membuat akun media sosial, hingga menerima pesanan lewat aplikasi. Dari hanya mengandalkan pelanggan tetap di sekitar pasar, kini mereka bisa menjangkau pembeli dari luar kota, bahkan luar negeri. Ada pula yang mulai berkolaborasi dengan kreator konten, memproduksi video behind the scenes atau membuat kemasan kekinian yang menarik untuk generasi digital.
Jajanan Tradisional kini tak lagi hanya jadi pelengkap saat hajatan atau takjil saat Ramadan. Ia telah menjelma jadi produk kuliner yang tidak hanya dikonsumsi, tapi juga dikisahkan. Dengan estetika visual, kehangatan cerita, dan kelezatan rasa, ia menjadi daya tarik yang kuat dalam ekosistem digital saat ini. Dan yang paling menarik, semua ini terjadi tanpa menghilangkan akarnya—justru semakin memperkuatnya.
Dari Pasar Ke Lini Masa: Jajanan Tradisional Menemukan Penonton Baru Di Dunia Maya
Dari Pasar Ke Lini Masa: Jajanan Tradisional Menemukan Penonton Baru Di Dunia Maya. Dulu, jajanan tradisional hanya di kenal sebagai makanan yang bisa di temukan di pasar-pasar tradisional, sekolah, atau saat momen-momen spesial seperti Lebaran dan hajatan. Tapi sekarang, posisinya berubah. Ia tak hanya hadir di meja makan atau keranjang belanja ibu-ibu, tapi juga tampil memikat di layar ponsel—di tengah feed Instagram, video TikTok, dan reels yang menggoda selera. Lintasan visual kue lupis yang di taburi kelapa dan di siram gula merah cair. Atau suara letupan kue cubit di atas wajan, kini tak lagi asing di dunia maya.
Fenomena ini di mulai dari keingintahuan generasi muda yang mencoba menggali kembali cita rasa lokal di tengah banjirnya makanan cepat saji dan tren kuliner asing. Berbekal kamera dan selera estetik, para konten kreator mulai mengangkat kisah di balik jajanan tersebut—dari proses pembuatan, cerita penjualnya, hingga makna budaya yang melekat. Video sederhana tentang kue apem yang di bakar di atas tungku tanah liat bisa meraup jutaan penonton hanya karena ia menyuguhkan sesuatu yang otentik dan menyentuh.
Para pelaku UMKM dan penjual kaki lima pun mulai merasakan dampaknya. Mereka yang semula hanya melayani pelanggan tetap di pasar atau kompleks perumahan kini bisa di kenal secara luas karena video mereka viral. Banyak di antaranya yang kemudian membuka sistem pre-order, menerima pesanan online, hingga melakukan pengemasan yang lebih modern dan kekinian. Dari situ, jajanan tradisional menemukan jalannya menuju generasi baru penikmat—mereka yang tumbuh dengan smartphone, tetapi mulai mencari akar dari rasa-rasa masa kecil.
Bukan hanya tentang makanan, melainkan tentang cerita. Penonton merasa terhubung secara emosional—baik yang merindukan kampung halaman, atau yang baru pertama kali tahu kalau ada makanan bernama wingko babat, nagasari, atau getuk lindri. Dan dari cerita-cerita inilah muncul apresiasi baru terhadap kuliner lokal yang sebelumnya di anggap biasa saja.
Makanan Lawas, Gaya Baru: Cara Kreator Konten Menghidupkan Kuliner Nusantara
Makanan Lawas, Gaya Baru: Cara Kreator Konten Menghidupkan Kuliner Nusantara. Di tengah derasnya arus globalisasi dan invasi kuliner modern dari berbagai penjuru dunia, makanan tradisional Nusantara sempat terpinggirkan dari pusat perhatian generasi muda. Namun kini, tren itu mulai berbalik. Berkat sentuhan kreatif dari para kreator konten, kuliner lawas Indonesia justru kembali bersinar—kali ini dengan wajah baru yang lebih segar, lebih visual, dan lebih dekat dengan selera digital masa kini.
Melalui video sinematik berdurasi singkat, potongan cerita dari masa lalu. Seperti serabi yang di bakar di atas tungku tanah liat atau opor ayam khas kampung yang di masak dalam kuali besar. Mendapat ruang di layar ponsel generasi muda. Kreator konten bukan hanya merekam proses memasak, tapi juga merangkainya menjadi narasi yang mengangkat sisi budaya, sejarah, dan kehangatan emosional yang melekat pada setiap resep keluarga. Dengan tambahan musik latar yang menggugah dan editan visual yang memikat, makanan-makanan ini tak lagi sekadar sajian. Tapi pengalaman yang bisa di nikmati secara virtual.
Tak sedikit juga yang membawa inovasi. Ada yang mengemas klepon menjadi dessert box, atau menyajikan rendang dalam bentuk rice bowl ala kafe kekinian. Cita rasanya tetap otentik, namun presentasinya lebih modern dan relatable. Kreator konten kuliner seperti ini berperan sebagai jembatan antara warisan rasa dan selera visual generasi digital. Mengemas makanan tradisional ke dalam bahasa yang di pahami oleh penonton masa kini.
Dampaknya pun terasa nyata. Banyak UMKM yang mulai berkolaborasi dengan para kreator konten untuk memperluas pasar mereka. Penonton yang tadinya hanya mengenal sushi dan croffle. Kini jadi penasaran mencicipi combro atau pecel sayur karena melihatnya tampil menarik di TikTok. Bahkan, makanan-makanan ini mulai masuk ke festival kuliner bergaya modern dan pop-up market yang di gemari anak muda.
Ketika Nostalgia Bertemu Algoritma: Resep Lama Kembali Dilirik Generasi Muda
Ketika Nostalgia Bertemu Algoritma: Resep Lama Kembali Dilirik Generasi Muda. Di era digital yang serba cepat, algoritma media sosial tak hanya menyajikan tren-tren baru. Tetapi juga memunculkan kembali hal-hal yang lama namun penuh makna—salah satunya adalah resep-resep tradisional warisan nenek moyang. Generasi muda, yang dulu di anggap lebih suka makanan instan atau cepat saji. Kini justru mulai melirik kembali resep-resep rumahan yang sempat tenggelam. Bukan karena paksaan, tapi karena algoritma mempertemukan mereka dengan rasa yang akrab meski belum tentu pernah mereka alami secara langsung.
Lewat TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Para kreator konten kuliner menghadirkan potongan-potongan video tentang cara membuat makanan seperti kue apem, sayur lodeh, atau bubur candil. Di sajikan dengan visual yang menarik, narasi yang menyentuh, dan musik latar yang membawa suasana nostalgia. Tidak sedikit dari penonton muda yang kemudian merasa “nyambung” dengan konten tersebut. Karena di dalamnya terselip kenangan masa kecil, cerita keluarga, atau sekadar rasa penasaran terhadap sesuatu yang terasa akrab namun asing.
Resep lama tak hanya kembali hidup, tapi juga menjadi bagian dari percakapan digital. Komentar seperti “Ini bikin aku inget nenek di kampung” atau “Ternyata gampang ya bikinnya, selama ini cuma makan”. Jadi bukti bahwa makanan bukan cuma soal rasa, tapi juga soal ikatan emosi. Bahkan, banyak dari mereka yang mulai mencoba membuat sendiri di rumah—merekam prosesnya, lalu membagikannya kembali ke media sosial. Lingkaran nostalgia dan eksplorasi pun berputar lagi, kali ini dengan bantuan teknologi.
Jajanan tradisional tak lagi hanya milik generasi terdahulu, tapi juga jadi warisan yang di banggakan dan di rayakan oleh generasi muda. Dan selama masih ada tangan yang mau mencoba, kamera yang mau merekam. Serta algoritma yang terus memutar, tradisi kuliner Nusantara akan terus hidup dengan cara yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya di dalam Jajanan Tradisional.