
Pulau Sumba, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, adalah sebuah paradoks yang memukau.
Pulau Sumba, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, adalah sebuah paradoks yang memukau. Di tengah modernitas Indonesia yang bergerak cepat, Pulau Sumba berdiri kokoh dengan memegang erat akar tradisinya. Dikenal dengan julukan “Pulau Sandelwood”, Sumba menawarkan lanskap yang sangat berbeda dari bayangan umum tentang tropis Indonesia yang serba hijau. Di sini, Anda akan menemukan hamparan sabana yang luas, bukit-bukit kapur yang bergelombang, dan budaya Marapu yang masih hidup dalam denyut nadi masyarakatnya.
Kekuatan Alam: Sabana dan Bukit yang Bernapas
Salah satu daya tarik utama Sumba adalah topografinya yang unik. Berbeda dengan Bali atau Lombok yang didominasi oleh gunung berapi, Sumba adalah pulau karang yang terangkat. Hal ini menciptakan pemandangan bukit-bukit rendah yang seolah tak berujung.
-
Bukit Wairinding: Terletak di Sumba Timur, bukit ini adalah ikon pariwisata Sumba. Pada musim kemarau, rumputnya menguning keemasan, memberikan kesan seperti berada di Afrika. Namun, saat musim hujan tiba, seluruh bukit berubah menjadi hamparan permadani hijau yang menyejukkan mata.
-
Bukit Tanarara: Menawarkan gradasi warna tanah yang unik dengan lekukan bukit yang dramatis, menjadikannya lokasi favorit bagi para fotografer untuk menangkap momen matahari terbenam.
Keunikan alam Sumba juga terpancar dari garis pantainya. Pantai Walakiri, misalnya, terkenal dengan “pohon menari”—pohon bakau kerdil dengan bentuk meliuk-liuk yang siluetnya tampak magis saat senja. Sementara itu, di Sumba Barat Daya, terdapat Danau Weekuri, sebuah laguna air asin dengan air berwarna biru kristal yang terpisah dari laut oleh tebing karang.
Warisan Budaya: Marapu dan Rumah Beratap Menara
Warisan Budaya: Marapu dan Rumah Beratap Menara. Sumba bukan sekadar pemandangan alam; Sumba adalah tentang manusia dan keyakinannya. Mayoritas masyarakat Sumba masih mempraktikkan atau setidaknya menghormati Marapu, sebuah agama asli yang memuja leluhur dan roh halus.
Rumah adat Sumba, atau Rumah Uma, adalah simbol fisik dari kepercayaan ini. Ciri khasnya adalah atap jerami yang menjulang tinggi menyerupai menara. Menara ini bukan sekadar arsitektur, melainkan tempat bersemayamnya para roh leluhur. Struktur rumah dibagi menjadi tiga tingkat:
-
Bagian Bawah: Tempat hewan ternak (kerbau dan babi).
-
Bagian Tengah: Tempat aktivitas manusia (hidup dan tidur).
-
Bagian Atas (Menara): Tempat menyimpan benda pusaka dan persembahan untuk leluhur.
Kampung adat seperti Ratenggaro dan Praijing adalah jendela untuk melihat bagaimana tradisi ini tetap lestari. Di sana, Anda akan melihat barisan rumah menara yang mengelilingi kuburan batu megalitikum. Sumba adalah salah satu dari sedikit tempat di dunia di mana tradisi pemakaman megalitikum (batu besar) masih berlangsung hingga hari ini.
Tradisi Pasola: Ketangkasan dan Keberanian
Jika Anda berkunjung pada bulan Februari atau Maret, Anda mungkin beruntung menyaksikan Pasola. Ini adalah upacara adat berupa permainan ketangkasan melempar lembing kayu dari atas kuda yang dipacu kencang. Pasola bukan sekadar olahraga; ini adalah ritual religius untuk memohon restu leluhur agar panen melimpah.
Darah yang tumpah dalam Pasola dianggap sebagai pupuk bagi bumi. Di sini, kuda Sumba (Sandelwood Pony) menunjukkan peran pentingnya dalam kehidupan masyarakat. Kuda bagi orang Sumba adalah simbol status, alat transportasi, dan bagian tak terpisahkan dari ritual adat.
Tenun Ikat: Narasi dalam Sehelai Kain
Tenun Ikat: Narasi dalam Sehelai Kain. Tidak lengkap membahas Sumba tanpa menyebut Tenun Ikat Sumba. Kain ini bukan sekadar pakaian, melainkan identitas sosial dan spiritual. Setiap motif—seperti motif kuda (simbol kepahlawanan), ayam (simbol kehidupan rumah tangga), atau tengkorak (simbol kemenangan)—memiliki cerita mendalam.
Proses pembuatannya bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun karena menggunakan pewarna alami dari akar mengkudu dan daun nila. Nilai seninya yang tinggi menjadikan tenun Sumba salah satu komoditas budaya yang paling di cari oleh kolektor dunia.
Harmoni Kuda Sandelwood: Jiwa Masyarakat Sumba
Kuda di Sumba bukan sekadar hewan ternak; mereka adalah napas kehidupan. Di kenal sebagai Kuda Sandelwood (di ambil dari komoditas kayu cendana yang dulu melimpah), kuda-kuda ini memiliki daya tahan yang luar biasa di medan sabana yang terik. Dalam struktur sosial Sumba, kuda adalah simbol harga diri.
Dalam adat pernikahan, kuda sering kali menjadi bagian dari Belis (mas kawin). Jumlah kuda yang di serahkan menunjukkan kemampuan dan kehormatan keluarga mempelai pria. Bagi pemuda Sumba, kemampuan menunggang kuda tanpa pelana adalah tanda kedewasaan. Kedekatan emosional ini terlihat jelas dalam cara mereka merawat kuda, yang di perlakukan hampir seperti anggota keluarga sendiri.
Megalitikum yang Hidup: Batu yang Bercerita
Sumba sering di juluki sebagai salah satu kebudayaan megalitikum terakhir yang masih hidup di dunia. Di banyak desa, seperti Tarung atau Anakalang, Anda akan melihat batu-batu kubur raksasa seberat berton-ton yang di letakkan di depan rumah.
Proses penarikan batu (Tarit Batu) adalah kerja kolektif yang melibatkan ratusan orang. Batu besar di tarik dari perbukitan menuju desa dengan menggunakan tali dari kulit pohon dan batang kayu sebagai roda darurat. Selama proses ini, nyanyian adat di kumandangkan untuk menyemangati para penarik. Fenomena ini membuktikan bahwa semangat gotong royong dan penghormatan terhadap leluhur tetap tak tergoyahkan oleh zaman beton dan baja.
Gastronomi: Cita Rasa dari Tanah Kering
Gastronomi: Cita Rasa dari Tanah Kering. Kuliner Sumba adalah cerminan dari adaptasi manusia terhadap alamnya. Makanan pokok masyarakat tradisional Sumba bukan hanya nasi, melainkan jagung dan umbi-umbian.
-
Jagung Bose: Jagung yang di tumbuk dan di masak dengan kacang-kacangan serta santan, menghasilkan tekstur yang lembut namun padat.
-
Manggulu: Camilan khas Sumba Timur yang terbuat dari pisang dan kacang tanah. Rasanya manis alami dan memiliki daya simpan yang lama.
-
Daging Se’i: Meski kini populer di Kupang dan Jakarta, teknik pengasapan daging (biasanya babi atau sapi) dengan kayu kosambi ini juga berakar kuat di daratan Sumba.
Sumba di Mata Dunia: Dari Nihi Sumba hingga Film Layar Lebar
Sumba telah bertransformasi dari permata tersembunyi menjadi destinasi elit dunia. Hotel Nihi Sumba telah beberapa kali di nobatkan sebagai hotel terbaik di dunia oleh majalah perjalanan bergengsi. Hal ini membuktikan bahwa model pariwisata yang mengedepankan pemberdayaan komunitas lokal dan pelestarian budaya dapat meraih kesuksesan di tingkat global.
Dunia sinematografi juga tidak ketinggalan menangkap magis pulau ini. Film-film seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak atau Pendekar Tongkat Emas menggunakan Sumba sebagai latar utama, memperkenalkan visual bukit-bukit kuning Sumba kepada penonton internasional.
Mengapa Sumba Harus Ada dalam Daftar Perjalanan Anda?
Sumba menawarkan kemewahan yang berbeda kemewahan dalam bentuk keaslian dan ketenangan. Di sini, Anda bisa merasakan koneksi yang mendalam dengan alam dan sejarah manusia. Meskipun infrastruktur terus berkembang, Sumba tetap mempertahankan karakter “liar” dan “murni” yang sulit di temukan di destinasi wisata mainstream lainnya.
Baik Anda seorang petualang yang mencari ombak kelas dunia di Pantai Nihiwatu, seorang pecinta budaya yang ingin mendalami tradisi Marapu, atau sekadar pencari ketenangan di balik perbukitan sabana, Sumba memiliki sesuatu yang akan mengubah cara Anda memandang dunia. Tak ada tempat lain yang mampu memberikan kombinasi antara petualangan fisik dan ketenangan spiritual sedalam Pulau Sumba.