
PT Freeport Indonesia (PTFI) bukan sekadar nama perusahaan tambang; ia adalah simbol dari kompleksitas industri ekstraktif di Indonesia
PT Freeport Indonesia (PTFI) bukan sekadar nama perusahaan tambang; ia adalah simbol dari kompleksitas industri ekstraktif di Indonesia. Sebagai salah satu produsen emas dan tembaga terbesar di dunia, keberadaannya di dataran tinggi Mimika, Papua, telah memicu perdebatan panjang yang melibatkan aspek kedaulatan ekonomi, kesejahteraan sosial, hingga kelestarian lingkungan selama lebih dari setengah abad.
Akar Sejarah: Penemuan Ertsberg dan Kontrak Karya I.
Kisah Freeport bermula pada tahun 1936, ketika seorang geolog Belanda bernama Jean Jacques Dozy menemukan singkapan batuan aneh yang ia sebut Ertsberg (Gunung Bijih) saat melakukan ekspedisi di Pegunungan Tengah Papua. Laporan Dozy sempat berdebu di perpustakaan Belanda selama masa Perang Dunia II, hingga akhirnya menarik perhatian Forbes Wilson dari Freeport Sulphur Company pada tahun 1960.
Pasca transisi politik di Indonesia dari Orde Lama ke Orde Baru, Freeport menjadi perusahaan asing pertama yang menandatangani Kontrak Karya (KK) dengan pemerintah Indonesia pada tahun 1967. Di bawah payung UU Penanaman Modal Asing yang baru lahir, Freeport memulai operasi di salah satu medan tersulit di bumi. Mereka membangun infrastruktur dari nol: jalan raya menembus hutan tropis, pelabuhan di Amamapare, hingga kota mandiri Tembagapura di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.
Era Grasberg: Transformasi Menjadi Raksasa Dunia
Ketika cadangan Ertsberg mulai menipis pada akhir 1980-an, Freeport menemukan cadangan baru yang jauh lebih masif: Grasberg. Penemuan ini mengubah peta pertambangan global. Grasberg terbukti memiliki salah satu cadangan tembaga dan emas terbesar di dunia.
Selama puluhan tahun, Grasberg di operasikan sebagai tambang terbuka (open pit) yang membentuk kawah raksasa dengan diameter lebih dari 3 kilometer. Namun, seiring habisnya cadangan di permukaan, sejak 2019 PTFI telah sepenuhnya beralih ke metode tambang bawah tanah (underground mining). Kompleks tambang bawah tanah ini merupakan salah satu yang tercanggih dan terluas di dunia, dengan jaringan terowongan yang mencapai ratusan kilometer.
Divestasi Saham Menuju Kedaulatan Ekonomi
Divestasi Saham Menuju Kedaulatan Ekonomi. Salah satu titik balik paling bersejarah dalam operasional Freeport terjadi pada akhir 2018. Setelah negosiasi yang alot selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, pemerintah Indonesia melalui holding BUMN industri pertambangan, MIND ID, berhasil mengambil alih kepemilikan mayoritas saham PTFI.
| Status Kepemilikan | Sebelum 2018 | Pasca 2018 |
| Pemerintah Indonesia (via MIND ID) | 9,36% | 51,23% |
| Freeport-McMoRan (FCX) | 90,64% | 48,77% |
Langkah ini bukan hanya soal angka, melainkan simbol kembalinya kendali sumber daya alam ke tangan negara sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945. Sebagai bagian dari kesepakatan ini, PTFI juga mengubah status hukumnya dari Kontrak Karya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), yang memberikan kepastian operasi hingga tahun 2041 dengan syarat pembangunan fasilitas pemurnian atau smelter.
Kontribusi Ekonomi dan Pembangunan Daerah
Tidak dapat di pungkiri bahwa PTFI adalah tulang punggung ekonomi bagi Kabupaten Mimika dan Provinsi Papua. Kontribusi perusahaan mencakup:
- Penerimaan Negara: Melalui pajak, royalti, dividen, serta pajak ekspor, PTFI menyumbangkan triliunan rupiah setiap tahunnya ke kas negara.
- Penyediaan Lapangan Kerja: PTFI mempekerjakan puluhan ribu karyawan. Di mana prioritas diberikan kepada tenaga kerja asal Papua melalui berbagai program pelatihan dan pengembangan.
- Pemberdayaan Masyarakat: Melalui dana kemitraan, Freeport mendanai pembangunan rumah sakit, sekolah, infrastruktur dasar, serta pengembangan UMKM bagi masyarakat lokal di sekitar area tambang.
Tantangan Lingkungan dan Sosial
Di balik kemilau emasnya, PTFI tak lepas dari kritik tajam. Isu lingkungan yang paling menonjol adalah pengelolaan tailing (sisa pasir tambang). Metode pengendapan tailing melalui sistem sungai hingga ke wilayah dataran rendah (ModADA) terus menjadi sorotan aktivis lingkungan karena dampak sedimentasi dan perubahan ekosistem sungai.
Secara sosial, kehadiran perusahaan besar di tengah masyarakat adat seringkali menimbulkan gesekan terkait hak ulayat dan kesenjangan ekonomi. Masyarakat suku Amungme dan Kamoro, sebagai pemilik ulayat, terus menyuarakan hak-hak mereka atas tanah dan kompensasi yang adil bagi generasi mendatang.
Hilirisasi Pembangunan Smelter Gresik
Sesuai mandat IUPK, PTFI berkomitmen mendukung program Hilirisasi Pembanguan Smelter Gresik industri nasional. Hal ini di wujudkan dengan pembangunan Smelter Manyar di Kawasan Industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur.
Smelter ini di klaim sebagai fasilitas pemurnian tembaga desain tunggal terbesar di dunia. Dengan beroperasinya smelter ini secara penuh, Indonesia tidak lagi hanya mengekspor konsentrat (bahan mentah), tetapi mampu memproduksi katoda tembaga, emas batang, hingga perak di dalam negeri. Ini merupakan langkah krusial untuk meningkatkan nilai tambah produk tambang Indonesia di pasar global.
Lokasi dan Skala Proyek
Smelter ini berlokasi di Kawasan Industri JIIPE (Java Integrated Industrial and Port Estate), Gresik. Fasilitas ini di sebut-sebut sebagai smelter desain tunggal (single line) terbesar di dunia. Pembangunannya melibatkan investasi besar yang mencapai sekitar US$ 3,7 miliar atau setara lebih dari Rp 58 triliun.
Kapasitas Produksi
Smelter ini di rancang untuk memurnikan konsentrat tembaga yang di kirim dari Papua. Kapasitas pengolahannya sangat masif:
- Input: Mampu mengolah hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
- Output Utama: Menghasilkan sekitar 600.000 hingga 700.000 ton katoda tembaga per tahun.
- Logam Berharga: Selain tembaga, fasilitas ini di lengkapi dengan Precious Metal Refinery (PMR) yang mampu menghasilkan 50-60 ton emas per tahun dan sekitar 200 ton perak per tahun.
Alasan Pembangunan (Hilirisasi)
Sebelum adanya smelter ini, sebagian besar konsentrat tembaga dari Papua di ekspor ke luar negeri (seperti Jepang atau Spanyol) untuk dimurnikan. Dengan beroperasinya smelter Gresik:
- Nilai Tambah: Indonesia tidak lagi mengekspor bahan mentah, melainkan produk jadi (katoda tembaga dan emas batangan).
- Pendapatan Negara: Meningkatkan penerimaan negara dari pajak dan royalti.
- Ekosistem Kendaraan Listrik: Tembaga adalah komponen vital untuk baterai dan motor listrik. Smelter ini menjadi pilar penting bagi ambisi Indonesia menjadi pusat industri kendaraan listrik dunia.
Teknologi pemurnian mutakhir
Fasilitas ini menggunakan Teknologi pemurnian mutakhir yang di klaim lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain produk utama, smelter ini juga menghasilkan produk sampingan seperti:
- Asam Sulfat: Di gunakan untuk industri pupuk (bekerja sama dengan Petrokimia Gresik).
- Terak Tembaga: Di gunakan sebagai bahan konstruksi jalan atau semen.
- Gipsum: Untuk industri semen.
Dampak Ekonomi Lokal
Pembangunan dan operasional smelter ini memberikan dampak ekonomi nyata bagi Jawa Timur, khususnya Gresik:
- Lapangan Kerja: Menyerap ribuan tenaga kerja selama masa konstruksi hingga tahap operasional.
- Multiefek: Mendorong pertumbuhan UMKM dan industri pendukung di sekitar kawasan JIIPE.
Status Terkini (2024)
Smelter ini telah melalui tahap commissioning dan mulai beroperasi secara bertahap sejak Juni 2024. Peresmian produksi pertama di lakukan secara simbolis untuk menandai bahwa Indonesia kini memiliki kendali penuh atas pemurnian emas dan tembaga dari tanah Papua.
Masa Depan: Tambang Pintar dan Berkelanjutan
Menatap masa depan, PTFI mulai mengadopsi teknologi Smart Mining. Penggunaan alat berat yang di kendalikan dari jarak jauh dan sistem otomasi di tambang bawah tanah bertujuan untuk meningkatkan keselamatan kerja sekaligus efisiensi produksi.
Selain itu, tantangan terbesar PTFI ke depan adalah bagaimana menjalankan operasi yang selaras dengan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance). Transformasi energi dengan mengurangi emisi karbon dalam proses produksi menjadi target yang harus di capai agar emas dari Papua tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga di produksi secara bertanggung jawab.
Kesimpulan
Perjalanan PT Freeport Indonesia adalah cerminan dari evolusi industri pertambangan Indonesia. Dari era ketergantungan penuh pada modal asing menuju kemitraan strategis dengan kepemilikan mayoritas nasional. Meskipun masih menyisakan pekerjaan rumah di sektor lingkungan dan hak masyarakat adat,kontribusi PTFI dalam teknologi pertambangan dan ekonomi nasional tetap menjadi pilar yang signifikan bagi kemajuan industri ekstraktif Indonesia yang di kelola oleh Freeport.